Jika Listrik Mati, Manusia Siapa? Pertanyaan Reflektif Tentang Peradaban

Suatu malam, listrik padam. Tidak ada notifikasi. Tidak ada peta. Tidak ada sinyal. Tidak ada jam digital yang memberi tahu waktu. Dalam gelap itu, pertanyaan sederhana muncul, bukan soal kenyamanan, tapi tentang keberadaan: jika listrik mati, manusia siapa?

Pertanyaan ini terdengar berlebihan sampai kita menyadari betapa banyak fungsi hidup modern bergantung pada aliran energi yang tak terlihat. Listrik bukan lagi sekadar alat bantu. Ia telah menjadi syarat eksistensi. Tanpanya, banyak hal yang kita sebut “normal” runtuh sekaligus.

Ilustrasi Kehidupan Manusia Purba (image: Media Indonesia) 

Rumah masih berdiri, tetapi tidak lagi terasa sebagai rumah. Kota masih ada, tetapi berubah menjadi ruang asing. Pekerjaan masih tercatat, tetapi tak bisa dijalankan. Identitas kita, sebagai pekerja, warga, pengguna, bahkan sebagai “orang sibuk”, menggantung pada stop kontak.

Di sinilah listrik berhenti menjadi persoalan teknis. Ia menjadi persoalan filosofis.

Dalam masyarakat modern, listrik adalah fondasi diam-diam dari apa yang disebut peradaban. Ia menopang komunikasi, kesehatan, pendidikan, produksi, keamanan, bahkan cara kita memahami waktu. Ketika listrik menyala, dunia terasa stabil. Ketika padam, kita menyadari betapa rapuhnya konstruksi itu.

Manusia pra-listrik tetap manusia. Mereka hidup, berpikir, mencinta, dan membangun makna tanpa saklar. Tetapi manusia modern dibentuk ulang oleh listrik. Cara kita bekerja, beristirahat, berinteraksi, dan bahkan merasa lelah sangat ditentukan oleh ketersediaan energi.

Jam kerja delapan jam hanya masuk akal dalam dunia bercahaya. Shift malam, pabrik 24 jam, ekonomi non-stop, semuanya lahir dari asumsi bahwa energi selalu tersedia. Listrik memperpanjang siang, memadatkan waktu, dan mempercepat ritme hidup. Kita tidak hanya bekerja lebih lama; kita hidup dalam kecepatan yang ditentukan oleh mesin.

Ketika listrik mati, kecepatan itu runtuh. Tubuh dipaksa kembali ke batas biologisnya. Mata lelah lebih cepat. Sunyi terasa lebih keras. Waktu melambat, bukan sebagai pilihan reflektif, tetapi sebagai paksaan.

Dalam gelap, manusia kembali menjadi makhluk yang terbatas.

Namun ketergantungan ini tidak dialami secara setara. Di sinilah listrik juga menjadi isu politik dan sosial.

Bagi kelas menengah perkotaan, mati listrik adalah gangguan sementara. Ada genset, power bank, kafe dengan colokan. Tetapi bagi rumah sakit, pemukiman padat, desa terpencil, dan pekerja harian, listrik adalah pembatas hidup dan mati. Tanpa listrik, alat medis berhenti, air tidak mengalir, komunikasi terputus, dan penghasilan lenyap.

Artinya, listrik bukan hanya infrastruktur. Ia adalah distribusi kuasa.

Negara-negara modern memahami ini dengan sangat baik. Karena itu, listrik hampir selalu dimonopoli atau dikontrol ketat oleh negara. Di Indonesia, misalnya, negara memegang kendali utama melalui perusahaan listrik nasional. Secara ideologis, ini dibenarkan atas nama kepentingan publik: listrik dianggap terlalu vital untuk diserahkan sepenuhnya ke mekanisme pasar.

Namun di balik argumen itu, ada konstruksi sosial yang lebih dalam: bahwa warga harus menjadi konsumen energi, bukan produsen. Membayar listrik dianggap kewajiban, sementara listrik mandiri, panel surya rumahan, pembangkit kecil, sering diperlakukan sebagai pengecualian, bukan norma.

Pertanyaannya bukan sekadar teknis: mengapa kita harus selalu membeli energi, dan jarang diajak membayangkan kemandirian energi sebagai hak sosial?

Jawabannya kembali ke cara kita memahami manusia dalam sistem ekonomi. Dalam logika industri, manusia diposisikan sebagai unit produktivitas. Energi dibutuhkan agar unit ini tetap bekerja. Listrik memastikan mesin menyala, komputer hidup, dan jam kerja berjalan sesuai target. Dalam kerangka ini, manusia bukan tujuan, melainkan bagian dari rantai produksi.

Ironisnya, ketika otomatisasi, teknologi, dan kecerdasan buatan semakin mengambil alih kerja manusia, nilai manusia justru tidak meningkat. Produktivitas melonjak, tetapi makna kerja menipis. Listrik memungkinkan mesin menggantikan manusia, tetapi sistem ekonomi tidak pernah benar-benar menyiapkan manusia untuk hidup di luar kerja.

Jika mesin bekerja tanpa lelah karena listrik, lalu manusia dinilai dari standar yang sama, efisien, cepat, selalu tersedia, apa yang terjadi ketika manusia gagal memenuhi itu? Mereka dianggap tidak kompetitif, tidak relevan, atau “tidak produktif”.

Di titik ini, listrik tidak lagi netral. Ia menjadi simbol pergeseran nilai: dari manusia sebagai subjek hidup, menjadi manusia sebagai komponen sistem.

Ketika listrik mati, sistem berhenti. Tetapi manusia tetap ada. Masalahnya, kita tidak lagi diajari bagaimana “tetap ada” tanpa sistem. Banyak dari kita merasa hampa, cemas, bahkan panik ketika koneksi terputus. Bukan karena gelap, tetapi karena identitas kita terlalu lama dititipkan pada jaringan.

Filsuf seperti Hannah Arendt pernah membedakan antara labor (kerja untuk bertahan hidup), work (karya yang memberi bentuk dunia), dan action (tindakan yang bermakna secara politis). Dalam masyarakat modern berbasis energi dan teknologi, ketiganya menyempit menjadi sekadar kerja. Listrik menjaga roda kerja itu terus berputar, tetapi tidak selalu membuka ruang bagi karya dan tindakan bermakna.

Maka pertanyaan “jika listrik mati, manusia siapa?” sebenarnya bertanya lebih jauh: siapa kita tanpa peran ekonomi yang difasilitasi energi?

Apakah kita masih punya nilai ketika tidak terhubung? Ketika tidak produktif? Ketika tidak bisa diukur oleh jam kerja dan output?

Jawaban yang jujur sering kali tidak nyaman.

Listrik telah mengajarkan kita mengukur hidup secara kuantitatif: daya, watt, jam, biaya. Hidup dinilai dari seberapa banyak yang bisa dihasilkan, diakses, dan dikonsumsi. Dalam logika ini, manusia yang “tidak menyala” dianggap beban.

Padahal secara filosofis, manusia tidak pernah diciptakan sebagai alat. Ia adalah bagian dari kesatuan semesta yang hidup, berpikir, dan merasa. Ketika dunia hanya melihat manusia sebagai pengguna energi, bukan sebagai makhluk bermakna, maka krisis yang muncul bukan sekadar krisis listrik, tetapi krisis kemanusiaan.

Ironisnya, banyak wacana transisi energi, energi hijau, efisiensi, smart grid, masih berbicara dalam bahasa yang sama: optimasi, pertumbuhan, daya saing. Jarang ada pertanyaan tentang bagaimana energi seharusnya melayani kehidupan, bukan sebaliknya.

Jika listrik mati, manusia dipaksa mengingat tubuhnya, suaranya, dan kehadiran orang lain. Percakapan kembali ke lisan. Waktu kembali ke ritme alami. Ketergantungan pada sistem digantikan oleh relasi langsung. Dalam gelap, kita kembali menjadi makhluk sosial yang rapuh namun nyata.

Mungkin itulah yang paling ditakuti dari mati listrik: bukan kegelapan, tetapi jeda. Jeda yang membuka pertanyaan tentang siapa kita sebenarnya ketika semua infrastruktur dilepas.

Listrik akan terus menjadi bagian penting dari hidup modern. Tidak ada romantisasi kembali ke gelap. Tetapi selama kita tidak mengkritisi hubungan kita dengannya, kita akan terus menilai manusia berdasarkan seberapa lama ia bisa “menyala”.

Pertanyaan itu perlu dibalik. Bukan “berapa watt yang kamu pakai”, tetapi “apa arti hidup yang ingin kamu jalani”. Karena jika suatu hari listrik benar-benar mati, entah karena krisis energi, bencana, atau pilihan politik, yang tersisa bukan mesin, melainkan manusia.

Dan saat itu tiba, pertanyaannya sederhana namun menentukan: apakah kita masih tahu bagaimana menjadi manusia?


 Referensi

1. Arendt, H. (1958). The Human Condition. University of Chicago Press.

2. Mitchell, T. (2011). Carbon Democracy: Political Power in the Age of Oil. Verso.

3. Smil, V. (2017). Energy and Civilization: A History. MIT Press.


Posting Komentar

Related Posts

Apa Ada Literasi di Tangerang Selatan?
Baca selengkapnya