Seperti kata pepatah “Gajah di pelupuk mata tak nampak, semut di seberang lautan tampak”. Seperti Ada satu asumsi sederhana yang jarang kita pertanyakan dalam rutinitas kehidupan manusia modern, bahwa listrik akan selalu ada. Ia menyala begitu saja. Alirannya terjadi dengn Stabil. Diam-diam menopang hidup manusia modern. Bahkan ketika dunia dipenuhi krisis, pandemi, perang, resesi, listrik tetap hadir sebagai latar yang tak dipikirkan. Justru karena itu, ia berbahaya. Yang paling menentukan sering kali adalah yang paling kita anggap pasti.
Namun dunia sedang bergerak ke arah yang tidak stabil. Eskalasi politik global meningkat, blok-blok kekuatan saling mengeras, diplomasi menjadi alot, konflik regional meluas, rantai pasok energi rapuh, dan teknologi militer makin bergantung pada infrastruktur sipil. Dalam lanskap seperti ini, krisis energi bukan skenario fiksi. Ia adalah kemungkinan rasional.
Perang dunia ketiga, jika terjadi, tidak akan dimulai dengan pasukan di jalanan kota. Ia dimulai dengan jaringan yang lumpuh: listrik, internet, logistik, energi. Serangan terhadap infrastruktur akan selalu lebih murah dan lebih efektif dibanding serangan langsung ke manusia. Dan di antara semua infrastruktur itu, listrik adalah titik paling rentan.
Pertanyaannya bukan lagi “apakah mungkin listrik mati?”, tetapi apa yang terjadi pada manusia ketika ia benar-benar mati?
Selama ini, kita membayangkan krisis sebagai gangguan sementara. Pemadaman bergilir. Beberapa jam tanpa sinyal. Sedikit kepanikan, lalu hidup kembali normal. Tapi krisis energi dalam skala global bukan soal jam atau hari. Ia soal ketiadaan yang berkepanjangan. Soal dunia yang dipaksa berjalan tanpa fondasi yang selama ini menopangnya.
Di titik itu, teknologi tidak menyelamatkan manusia. Justru ketergantungan pada teknologi mempercepat kepanikan.
Manusia modern bukan hanya menggunakan listrik. Ia dibentuk olehnya. Ritme tidur, jam kerja, cara berkomunikasi, sistem pangan, layanan kesehatan, semuanya diasumsikan berjalan di atas aliran energi yang stabil. Ketika asumsi itu runtuh, yang hilang bukan hanya kenyamanan, tapi orientasi.
Tanpa listrik, ponsel mati. Tanpa ponsel, identitas sosial menguap. Tidak ada navigasi, tidak ada notifikasi, tidak ada kalender digital yang mengatur hari. Waktu kembali menjadi kabur. Dalam kondisi ini, banyak orang tidak tahu harus berbuat apa, bukan karena bodoh, tetapi karena hidup mereka terlalu lama dipandu oleh sistem.
Inilah argumentasinya, bahwa krisis energi bukan pertama-tama krisis teknis, melainkan krisis kognitif dan sosial.
Kita terlalu lama diajari menjadi pengguna, bukan penyintas. Terlalu lama dilatih menjadi konsumen sistem, bukan pembangun daya tahan. Negara-negara modern, termasuk Indonesia, mengelola energi secara terpusat dengan logika stabilitas politik dan ekonomi. Dalam kondisi normal, ini efisien. Dalam kondisi krisis global, ia rapuh.
Ketika energi dimonopoli dan warga tidak pernah diajak membangun kapasitas mandiri, maka mati listrik berarti mati kemampuan bertindak. Warga menunggu. Menunggu negara. Menunggu sistem pulih. Menunggu bantuan. Padahal dalam krisis besar, negara juga lumpuh.
Sejarah menunjukkan ini berulang kali. Krisis energi tahun 1970-an, blackout besar di Amerika Utara dan Eropa, konflik energi di Timur Tengah, hingga perang Rusia–Ukraina yang mengguncang pasokan global. Polanya sama: ketika energi terganggu, ketahanan sosial menentukan siapa yang bertahan.
Dan ketahanan sosial tidak dibangun oleh teknologi tinggi, tetapi oleh relasi manusia.
Dalam dunia tanpa listrik, yang paling berharga bukan gawai, melainkan jaringan sosial yang nyata. Tetangga yang saling kenal. Komunitas yang terbiasa berbagi. Pengetahuan dasar yang tidak bergantung pada mesin. Kemampuan beradaptasi, bukan kecepatan.
Sayangnya, orientasi ekonomi global justru bergerak berlawanan. Individualisme diperkuat. Ikatan sosial dilemahkan. Produktivitas diukur secara personal, bukan kolektif. Manusia didorong menjadi efisien, bukan resilien.
Ini membuat kita rentan secara struktural.
Ketika eskalasi politik global meningkat, sanksi energi, perang proksi, blokade logistik, yang pertama kali dikorbankan bukan elit, tetapi warga biasa. Dan ironisnya, warga biasa sering diminta “tetap tenang” tanpa pernah disiapkan untuk kondisi di mana sistem benar-benar gagal.
Mempersiapkan diri menghadapi krisis energi bukan berarti hidup dalam paranoia. Ia berarti menggeser cara pandang. Dari “negara pasti mengurus” menjadi “manusia harus tetap hidup meski sistem goyah”.
Dalam kondisi tanpa listrik, survival bukan soal heroisme individual, melainkan kemampuan kolektif untuk menata ulang hidup. Mengembalikan nilai pada kerja manual. Menghidupkan kembali pengetahuan dasar. Mengurangi ketergantungan pada sistem tunggal. Dan yang paling penting: mengakui keterbatasan manusia modern.
Selama ini, kita dibujuk oleh narasi kemajuan bahwa teknologi akan selalu menyelamatkan. Bahwa AI, otomatisasi, dan sistem cerdas akan membuat dunia lebih aman. Tetapi teknologi tidak netral terhadap konflik. Dalam perang, teknologi menjadi sasaran. Dan ketika ia jatuh, manusia yang lupa cara hidup tanpanya akan jatuh lebih cepat.
Maka bertahan hidup dan beradaptasi bukanlah soal “bagaimana bertahan tanpa listrik?”, tetapi siapa kita ketika listrik tidak lagi membentuk hidup?
Apakah kita masih bisa bekerja tanpa diukur jam digital? Apakah kita masih bisa merasa berguna tanpa produktivitas ekonomi? Apakah kita masih bisa berelasi tanpa perantara layar?
Jika jawabannya tidak, maka krisis energi akan menjadi krisis makna.
Negara-negara boleh terus bermain dalam eskalasi politik global. Mereka boleh berbicara soal aliansi, kekuatan militer, dan dominasi energi. Tetapi di bawah semua itu, ada manusia biasa yang hidupnya bergantung pada stabilitas yang tidak pernah ia kendalikan.
Menyiapkan diri menghadapi potensi kehancuran bukan berarti menyerah pada ketakutan. Ia berarti mengambil kembali otonomi sebagai manusia. Mengurangi ketergantungan yang tidak perlu. Memperkuat ikatan sosial. Dan memahami bahwa hidup tidak boleh sepenuhnya diserahkan pada sistem yang bisa runtuh kapan saja.
Jika suatu hari listrik benar-benar padam, bukan karena kesalahan teknis, tetapi karena dunia gagal mengelola konfliknya, yang tersisa bukan negara, bukan pasar, bukan teknologi.
Yang tersisa adalah manusia.
Dan pertanyaannya akan terdengar sederhana, tapi menentukan nasib manusia, Apakah kita masih tahu cara hidup, atau selama ini kita hanya tahu cara menyalakan peranti elektronik untuk menyangga kehidupan kita?
Referensi:
1. Smil, V. (2017). Energy and Civilization: A History. MIT Press.
2. Mitchell, T. (2011). Carbon Democracy: Political Power in the Age of Oil. Verso.
3. Tainter, J. A. (1988). The Collapse of Complex Societies. Cambridge University Press.