Ada satu kalimat yang selalu muncul setiap kali kabar tentang korban judi online beredar, dengan kalimat “Ya salah sendiri.”
Kalimat ini ringan diucapkan, seperti melempar batu kecil ke sungai lalu pergi tanpa menunggu riaknya. Ia terdengar masuk akal, bahkan terasa dewasa. Tapi justru karena terlalu cepat, kalimat itu bekerja seperti penutup mata. Ia mematikan rasa ingin tahu kita sebelum sempat bertanya lebih jauh.
Padahal, tragedi yang berulang jarang lahir dari kesalahan tunggal. Jika banyak orang jatuh di lubang yang sama, masalahnya bukan lagi pada cara mereka berjalan, melainkan pada lubang yang sengaja dibiarkan terbuka.
Judi online bukan cerita tentang satu orang yang kurang kuat iman atau kurang pintar mengelola uang. Ia adalah cerita tentang ekosistem. Tentang sistem yang bekerja rapi di balik layar, seperti jaring laba-laba digital, hampir tak terlihat, lengket, dan sulit dilepaskan setelah terjerat.
Setiap korban bukan pengecualian. Ia adalah bagian dari pola.
Judi online hidup bukan dengan cara berteriak, tetapi dengan cara membisik. Ia tidak datang membawa wajah kriminal, melainkan tampilan ramah: warna cerah, bonus sambutan, testimoni kemenangan, dan bahasa sehari-hari yang terasa akrab. “Cuma coba.” “Iseng doang.” “Siapa tahu rezeki.”
Ia seperti warung yang buka 24 jam di dalam ponsel kita, tanpa kasir, tanpa tatapan orang lain, tanpa rasa malu. Tidak ada jam tutup, tidak ada hari libur. Ketika dunia nyata meminta kita menunggu, judi online menawarkan jalan pintas. Dan di tengah ekonomi yang membuat banyak orang merasa jalan resminya makin sempit, jalan pintas selalu tampak menggoda.
Di sinilah mitos “kesalahan individu” mulai retak.
Kita sering lupa bahwa tidak semua orang datang ke judi online dengan niat serakah. Banyak yang datang dengan rasa lelah. Lelah bekerja tanpa kepastian. Lelah menabung tapi harga terus naik. Lelah mendengar nasihat “sabar” dari sistem yang tak pernah sabar pada mereka. Judi online masuk ke celah itu, seperti air merembes di retakan tembok.
Menyederhanakan semua ini menjadi “salah sendiri” sama saja seperti menyalahkan orang yang tenggelam karena “kurang pandai berenang”, sambil mengabaikan fakta bahwa arusnya deras dan pelampungnya sengaja dilubangi.
Narasi kesalahan individu juga mengabaikan agresivitas iklan yang nyaris tanpa henti. Judi online tidak menunggu orang mencarinya. Ia aktif mencari korban. Lewat iklan terselubung, influencer, grup Telegram, hingga komentar-komentar yang disamarkan sebagai cerita sukses. Semua dirancang untuk membuat perjudian terasa normal, bahkan rasional.
Ditambah lagi dengan akses 24 jam. Tidak ada jeda untuk berpikir. Tidak ada ruang untuk menenangkan diri. Setiap kekalahan langsung disusul tawaran: top up, cashback, bonus. Sistem ini tidak dibangun untuk memberi waktu refleksi, tetapi untuk menjaga orang tetap berada di meja, meski mejanya hanya layar ponsel.
Di titik ini, literasi finansial sering dijadikan kambing hitam. Seolah-olah jika seseorang lebih paham soal uang, semua akan selesai. Padahal literasi bukan sekadar soal kemampuan individu membaca angka. Ia lahir dari pendidikan, stabilitas ekonomi, dan pengalaman hidup. Menuntut literasi finansial tinggi dari masyarakat yang hidup dalam tekanan ekonomi struktural adalah seperti menyuruh orang belajar berenang sambil terus mendorong mereka ke arus deras.
Moral blame, menyalahkan korban secara moral, adalah cara paling murah untuk menghindari tanggung jawab sistemik. Ia bekerja seperti sapu yang menyembunyikan debu ke bawah karpet. Negara bisa berkata sudah menindak situs. Platform bisa mengaku netral. Industri bisa berlindung di balik kalimat sakral: “pasar itu berisiko.”
Padahal tidak ada pasar yang benar-benar netral. Dan tidak ada risiko yang murni personal jika desainnya memang dibuat untuk mengeksploitasi kelemahan manusia.
Judi online bukan penyimpangan dari sistem ekonomi hari ini; ia justru cerminnya. Kita hidup di zaman ketika kerja keras tidak selalu berbanding lurus dengan rasa aman. Ketika pendidikan tidak lagi otomatis membuka pintu. Ketika masa depan terasa seperti janji yang terus ditunda. Dalam kondisi seperti ini, harapan menjadi komoditas paling laku. Judi online menjual harapan dalam bentuk paling cair dan paling berbahaya.
Ia menjanjikan kemungkinan tanpa proses. Kemenangan tanpa waktu. Mobilitas tanpa struktur. Dan ketika harapan itu runtuh, yang tersisa hanyalah rasa bersalah yang diarahkan ke diri sendiri.
Di sinilah tragedi menjadi sunyi.
Banyak korban tidak berani bicara. Bukan hanya karena malu, tapi karena tahu masyarakat cepat menghakimi. Mereka menanggung beban sendirian, seperti membawa karung pasir di punggung sambil terus diminta berjalan. Ketika akhirnya mereka jatuh, publik baru menoleh, itu pun sering hanya untuk menunjuk.
Padahal jika kita jujur, judi online adalah masalah publik karena dampaknya tidak pernah berhenti pada satu orang. Ia merembet ke keluarga, ke relasi sosial, ke kesehatan mental, ke ekonomi rumah tangga. Ia menciptakan lingkaran baru kemiskinan dan keputusasaan. Dan selama kita terus memperlakukannya sebagai urusan pribadi, lingkaran itu akan terus berputar.
Pertanyaan terpenting bukan lagi mengapa orang terjerumus, tetapi siapa yang diuntungkan dari pembiaran ini.
Jawabannya mengambang di depan mata: industri judi yang terus meraup untung, ekosistem afiliasi yang hidup dari komisi, platform digital yang menikmati trafik, dan sistem yang terbebas dari tuntutan untuk berubah. Sementara korban diminta belajar dari “kesalahan”, tanpa ada yang benar-benar memperbaiki lubangnya.
Mengakui judi online sebagai masalah publik bukan berarti menghapus tanggung jawab individu. Ia berarti menempatkan tanggung jawab pada tempat yang lebih adil. Individu bertanggung jawab atas pilihan, tetapi sistem bertanggung jawab atas desain pilihan itu sendiri.
Selama kita masih nyaman mengulang kalimat “salah sendiri”, selama itu pula kita ikut menjaga mesin ini tetap menyala. Mesin yang bekerja pelan, senyap, tapi konsisten mengubah harapan menjadi utang, dan utang menjadi keheningan.
Dan mungkin, yang paling menakutkan dari judi online bukan soal uang yang hilang, tetapi tentang bagaimana kita, sebagai masyarakat, belajar untuk menormalisasi penderitaan, selama penderitaan itu bisa terus dianggap urusan orang lain.
Referensi
1. Bauman, Z. (2007). Liquid Times: Living in an Age of Uncertainty. Polity Press.
2. Griffiths, M. D. (2015). Gambling Addiction: Issues, Concerns, and Treatments. Routledge.
3. Beck, U. (1992). Risk Society: Towards a New Modernity. Sage Publications.