Bayangkan satu pagi ketika tidak ada notifikasi. Tidak ada bunyi ponsel. Tidak ada sinyal. Lampu lalu lintas mati, mesin ATM membisu, dan layar-layar yang biasanya menyala tanpa henti tiba-tiba menjadi benda mati. Dunia tidak kiamat. Ia hanya berhenti bekerja.
Pada hari pertama, manusia masih menunggu. Mengira ini gangguan sementara. Pada hari ketiga, manusia mulai bertanya. Pada hari ketujuh, manusia mulai berubah.
Yang runtuh lebih dulu bukan gedung, bukan senjata, bukan bahkan negara. Yang runtuh adalah keyakinan, bahwa dunia modern bersifat permanen.
Kita hidup terlalu lama dalam ilusi kontinuitas. Bahwa besok akan selalu menyerupai hari ini. Bahwa sistem akan selalu menyala. Bahwa ada pihak yang “mengurus” semuanya. Listrik mematikan ilusi itu dalam satu tarikan napas.
Tanpa listrik, manusia tidak kehilangan kenyamanan. Ia kehilangan struktur.
Apakah Peradaban Modern Terlalu Kompleks untuk Bertahan Lama?
Konspirasi sering lahir dari satu kegelisahan sederhana: tidak ada sistem kompleks yang bertahan selamanya. Sejarah memperlihatkan itu berulang kali, Romawi, Maya, Mesopotamia. Bukan karena mereka bodoh, tapi karena mereka terlalu berhasil.
Peradaban modern mungkin berada di fase yang sama. Terlalu bergantung pada jaringan global, energi terpusat, logistik lintas benua, dan kepercayaan abstrak seperti “pasar” dan “stabilitas geopolitik”.
Dalam dunia tanpa listrik, kompleksitas menjadi beban. Yang bertahan bukan yang paling canggih, tapi yang paling mandiri. Bukan yang paling terhubung, tapi yang paling dekat secara sosial.
Di sinilah konspirasi mulai terasa masuk akal: bagaimana jika dunia memang sedang diarahkan menuju penyederhanaan paksa?
Loyalitas Manusia Pada Negara Tidaklah Abadi
Negara adalah kontrak. Dan seperti semua kontrak, ia berlaku selama kedua pihak mampu memenuhi kewajibannya. Ketika negara gagal menyediakan keamanan, pangan, dan energi, kontrak itu diam-diam gugur.
Tanpa listrik, simbol negara menjadi hiasan. Kantor pemerintahan hanyalah bangunan. Hukum tertulis kehilangan daya tanpa aparat dan infrastruktur. Yang tersisa adalah relasi langsung antar manusia.
Dalam kondisi ini, loyalitas tidak lagi vertikal, tetapi horizontal. Orang tidak bertanya “warga negara mana kamu?”, tapi “kamu bagian dari kelompok siapa?”.
Konspirasi membaca ini sebagai kembalinya tribalisme fungsional, bukan identitas primitif, melainkan struktur bertahan hidup. Kelompok kecil, saling mengenal, saling menjaga, saling curiga terhadap yang asing.
Bukan nasionalisme yang bekerja, tapi kedekatan biologis dan emosional.
Ironi Persenjataan Modern
Dunia modern dipenuhi senjata paling canggih yang pernah diciptakan manusia. Tapi semua itu bergantung pada sistem yang sama: listrik, rantai pasok, logistik global.
Tanpa energi, senjata paling mutakhir lebih tidak berguna daripada pisau dapur.
Di titik ini, kitab-kitab lama terasa relevan bukan karena mistik, tapi karena kesederhanaannya. Pedang, busur, tombak, bukan simbol kemunduran, tapi alat yang tidak butuh server, satelit, atau pembaruan perangkat lunak.
Konspirasi tidak mengatakan manusia ingin kembali ke sana. Ia mengatakan: dalam krisis ekstrem, manusia akan memilih yang bisa digunakan, bukan yang paling canggih.
Ketika Teknologi Tidak Dihancurkan, tapi Dilupakan
Ada satu hal yang lebih sunyi dari kehancuran teknologi, lupa.
Tanpa listrik, tidak ada cara merawat pengetahuan digital. Tidak ada arsip. Tidak ada backup. Tidak ada cloud. Dalam satu generasi, teknologi tinggi bisa berubah menjadi mitos, cerita tentang “dulu manusia berbicara lewat benda kecil bercahaya”.
Yang bertahan bukan manual teknis, tapi praktik yang bisa diwariskan lewat tubuh dan ingatan. Cara menanam, berburu, menyimpan air, membaca cuaca, menjaga api.
Konspirasi melihat ini sebagai reset kultural: bukan penghancuran, tapi pemilahan kejam tentang pengetahuan mana yang layak bertahan.
Apakah Dunia Akan Benar-Benar Kembali ke Titik Nol?
Mungkin tidak sepenuhnya. Titik nol bukan berarti manusia lupa segalanya. Ia berarti manusia berhenti berpura-pura.
Berhenti berpura-pura bahwa ekonomi lebih penting dari ekologi. Bahwa pertumbuhan tak terbatas itu masuk akal. Bahwa teknologi selalu netral. Bahwa negara selalu ada.
Dalam dunia tanpa listrik, manusia tidak menjadi malaikat. Ia juga tidak otomatis menjadi monster. Ia menjadi dirinya sendiri, tanpa penyangga sistem.
Konspirasi terbesar mungkin bukan soal perang dunia ketiga. Tapi soal pertanyaan ini:
Apakah manusia, tanpa sistem besar, masih mampu hidup bersama tanpa saling memusnahkan?
Tidak ada jawaban pasti. Dan justru karena itulah ketakutan ini terus hidup.
Ketakutan Peradaban yang Layak Didengar
Versi konspirasi tentang dunia yang kembali ke titik nol tidak perlu dipercaya sepenuhnya untuk dianggap penting. Ia bekerja sebagai cermin. Ia memaksa kita bertanya: seberapa siap kita hidup tanpa sistem yang kita anggap pasti?
Jika listrik padam besok, siapa kita?
Jika negara berhenti berfungsi, dengan siapa kita berdiri?
Jika teknologi diam, apa yang masih tersisa dari kemanusiaan kita?
Mungkin dunia tidak akan runtuh. Tapi fakta bahwa kita bisa membayangkannya dengan begitu jelas adalah tanda bahwa peradaban ini lebih rapuh daripada yang ingin kita akui.
Dan mungkin, justru dengan menyadari itu, kita masih punya kesempatan untuk tidak mengulang siklus yang sama.